Mesin Cetak Uang Langka dan Paling Dicari Zaman Revolusi Dipamerkan di Kota Medan

Mesin Cetak Uang Langka dan Paling Dicari Zaman Revolusi Dipamerkan di Kota Medan




Mesin pencetak uang perlawanan Tapanuli paling dicari pihak Belanda untuk dihancurkan kini terpampang dipamerkan di Kota Medan.

Kesempatan langka itu hanya bisa disaksikan hingga 10 Mei 2017 di Gedung Juang 45 Medan bersamaan dengan pameran 100 jenis uang Perjuangan Sumatera Utara.

Pameran ini diselenggarakan kerjasama Dewan Harian Daerah 45 Sumut, Museum Uang Sumatera dan Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial (Pussis Unimed). TARUHAN BOLA

"Mesin pencetak uang ini paling dicari ketika itu oleh pihak belanda karena berhasil menembus blokade moneter Belanda (1945-1949), untuk dihancurkan," kata Dr. phil Ichwan Azhari kepada Tribun-Medan.com, Jumat (5/5/2017).

Puluhan tahun mesin ini disimpan di sebuah rumah dekat pasar ikan asin di Sibolga sampai kemudian dibeli oleh kolektor dan numismatik senior kota Medan bernama Rudy Barus yang kini memimpin Museum Uang Sumatra.

Museum Uang Sumatera ini berjasa sudah berhasil menyelamatkan mesin cetak uang masa revolusi untuk daerah Tapanuli yang berasal dari Sibolga. TOGEL ONLINE
Ichwan Azhari saat melakukan pembukaan pameran di Gedung Juang 45
Ichwan Azhari saat melakukan pembukaan pameran di Gedung Juang 45 (Facebook/Ichwan Azhari)
Namun kata Ichwan mesin yang menyimpan jejak heroik memoir sejarah perjuangan bangsa ini kini sudah didaftarkan sebagai benda cagar budaya.

Bahkan panitia Rekor Muri juga sedang dalam persiapan memasukkan Museum Uang Sumatera dengan Mesin Tapanuli ini sebagai yang pertama di Indonesia.

Percetakan uang zaman revolusi ini telah berjasa dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia di Sumatera Utara 1945-1949. CASINO ONLINE

Uang yang dicetak dengan mesin ini telah berhasil menembus blokade moneter Belanda yang memaksa bangsa Indonesia memakai uang Belanda dan uang NICA.

Mesin yang dipakai untuk mencetak uang Tapanuli dan berlokasi di Sibolga ini , pernah dicari cari Belanda untuk disita dan dihancurkan karena dianggap mengganggu penaklukkan ekonomi penjajahan.

"Berkali kali mesin ini disembunyikan dan pernah dibawa ke hutan menghindar disita Belanda," kata Ichwan.

Dengan demikian mesin ini bukan hanya telah berfungsi sebagai alat pencetak uang tetapi sebagai senjata ekonomi untuk melawan Belanda.

"Mesin cetak uang revolusi yang merupakan memori penting bangsa ini tanpa menunggu pemerintah yang biasanya lamban memperhatikannya, telah diselamatkan atas usaha pribadi dari Bapak Rudi Barus untuk dipakai oleh Yayasan Museum Uang Sumatera," kata Ichwan.

Tidak hanya itu, bersamaan dengan pameran benda langka mesin pencetak uang teresebut, pihak penyelenggara juga bakal melaksanakan seminar pada Sabtu 6 Mei 2017, jam 09.30 di Gedung Juang 45, Jl. Pemuda 17 Medan.

Seminar ini diselenggarakan Mahasiswa Jurusan pendidikan Sejarah Unimed bekerjasama dengan Museum Uang Sumatra dan DHD 45 Sumut. 

Tema seminar itu "Dinamika uang era revolusi di Sumatera Utara, dari artefak sejarah terlupakan menjadi barang bernilai tinggi"

Seminar ini diselenggarakan dengan narasumber/ judul 1. Rudi Barus (Kepala Museum Uang Sumatra) " Pendirian Museum Uang Sumatra Sebagai Penyelamat Artefak Sejarah Bangsa". 2. Wahyuddin (Kolektor Uang) "Nilai Uang Lama Masa Revolusi Sebagai Investasi/Bisnis". 3. Bapak Irwan Fahmi (Saksi Sejarah) "Gerilya Pencetakan Uang Revolusi Sumut di Aceh Timur"

Posting Komentar

[blogger]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.